Training of How to Produce Green Noodle (Mie Hijau)

February 26, 2011

Due to be curious to know how to make noodle or mie pangsit. Once I got the information of training how to produce noodle from my colleague Pak Purwanto  (Owner of Mie Sehati Cafe  in Cikaranga Jababeka II at Roxy food Center).

Directly I registered to join the training.

The training was held from 09.00 am to 01. 00 pm , venue at Roxy Food Center in Cikarang.  On Sunday, Jan 30, 2011.

It seemed  the training was very enthusiastic, many participants payed attention to  the tutor.

The registration was only Rp 50.000,00 (Lima Puluh Ribu Rupiah).  During this training , all the participants could try to do the process from the beginning to end. We also had session of question and answer. At the end of program , we tasted the green noodle which had been boiled/cooked. At least, one bowl , we ate the green noodle/Mie Pangsit.

Do you know how to make the noodle becomes green ?

It is because of  The ingredient is mixture of green mustard(sawi hijau).

The mustard  of blender is mixed into flour. So, the color will be green. The taste is very nice.

The participants were not only from JABODETABEK, even from Batam , Tegal joined to this training. :)

Translation to Indonesia Language. Word “Supermaket”

February 26, 2011

A supermarket, a form of grocery store, is a self-service store offering a wide variety of food and household merchandise, organized into departments. It is larger in size and has a wider selection than a traditional grocery store and it is smaller than a hypermarket or superstore. (Supermarket, suatu bentuk dari toko kelontong, suatu toko swalayan yang menawarkan jenis berbagai makanan dan barang rumah tangga, disusun ke dalam department/bagian. Supermaket memiliki pilihan lebih luas dan dalam ukuran yang lebih besar daripada toko kelontong tradisional dan supermarket lebih kecil dari hypermarket atau superstore)

 The supermarket typically comprises meat, fresh produce, dairy, and baked goods departments along with shelf space reserved for canned and packaged goods as well as for various nonfood items such as household cleaners, pharmacy products, and pet supplies. Most supermarkets also sell a variety of other household products that are consumed regularly, such as alcohol (where permitted), household cleaning products, medicine, clothes, and some sell a much wider range of nonfood products. (Supermarket ini biasanya terdiri dari/meliputi daging, produk segar, susu, dan bagian barang2 panggang bersama dengan rak disediakan untuk kalengan dan barang2 kemasan juga Untuk berbagai jenis non makanan seperti pembersih rumah tangga, produk farmasi, pasokan untuk hewan peliharaan. Sebagian besar supermarket juga menjual berbagai macam produk rumah tangga lainnya yang dikonsumsi secara teratur, seperti alcohol (yg diijinkan), produk pembersih rumah tangga, obat, kain2, dan beberapanya menjual berbagai produk yang lebih luas/banyak selain non makanan.)

 The traditional suburban supermarket occupies a large amount of floor space, usually on a single level, and is situated near a residential area in order to be convenient to consumers. Its basic appeal is the availability of a broad selection of goods under a single roof at relatively low prices. Other advantages include ease of parking and, frequently, the convenience of shopping hours that extend far into the evening or even 24 hours a day. Supermarkets usually make massive outlays of newspaper and other advertising and often present elaborate in-store displays of products. The stores often are part of a corporate chain that owns or controls (sometimes by franchise) other supermarkets located nearby — even transnationally — thus increasing opportunities for economies of scale. (Supermarket pinggiran kota tradisional menempati sejumlah besar ruang lantai, biasanya pada tingkat tunggal, terletak dekat kawasan perumahan agar mudah untuk konsumen. Dasar daya tariknya adalah ketersediaan pilihan barang yang banyak di bawah satu atap dengan harga yang relatif rendah. Keuntungan lainnya adalah termasuk kemudahan parkir dan, seringkali, kenyamanan jam belanja yang panjang/lama hingga malam hari atau bahkan 24 jam sehari. Supermarket biasanya membuat ongkos yg besar untuk surat kabar dan iklan lainnya dan sering menampilkan produk2 yang rumit di dalam tokonya. Gudangnya sering merupakan bagian dari rantai perusahaan yang memiliki atau mengendalikan supermarket lainnya yang berada di dekatnya (kadang2 oleh waralaba) – bahkan transnationally Sehingga meningkatkan peluang bagi skala ekonomis )

Supermarkets typically are supplied by the distribution centers of its parent company, such as Loblaw Companies in Canada, which operates thousands of supermarkets across the nation. Loblaw operates a distribution center in every province — usually in the largest city in the province. (Supermarket biasanya dipasok oleh pusat-pusat distribusi dari perusahaan induknya, seperti Perusahaan2 Loblaw di Kanada, yang mengoperasikan ribuan supermarket diseluruh Negara. Loblaw Mengoperasikan pusat distribusi di setiap provinsi – biasanya di kota terbesar di provinsi itu.)

 Supermarkets usually offer products at low prices by reducing their economic margins. Certain products (typically staple foods such as bread, milk and sugar) are occasionally sold as loss leaders, that is, with negative profit margins. To maintain a profit, supermarkets attempt to make up for the lower margins by a higher overall volume of sales, and with the sale of higher-margin items. Customers usually shop by placing their selected merchandise into shopping carts (trolleys) or baskets (self-service) and pay for the merchandise at the check-out. At present, many supermarket chains are attempting to further reduce labor costs by shifting to self-service check-out machines, where a single employee can oversee a group of four or five machines at once, assisting multiple customers at a time. (Supermarket biasanya menawarkan produk dengan harga rendah dengan mengurangi margin ekonomi mereka. Produk tertentu (biasanya makanan pokok seperti roti, susu dan gula) yang kadang-kadang dijual sebagai penyebab kerugian besar, yaitu, dengan marjin laba negative. Untuk mempertahankan/memelihara keuntungan, supermarket berupaya/mencoba untuk menebus margin yang lebih rendah dengan volume penjualan secara keseluruhan lebih tinggi, dan dengan penjualan barang-margin lebih tinggi. Pelanggan biasanya membeli dengan menempatkan barang-barang yang dipilih mereka ke dalam keranjang belanja (troli) atau keranjang (self-service) dan membayar barang dagangan di-check out. Skrg ini, jaringan supermarket sedang berusaha untuk mengurangi biaya tenaga kerja dengan beralih ke mesin self-service check-out (Mesin pelayanan check out sendiri), dimana seorang karyawan dapat mengawasi satu kelompok empat atau lima mesin sekaligus, membantu beberapa pelanggan pada satu waktu.)

A larger full-service supermarket combined with a department store is sometimes known as a hypermarket. Other services offered at some supermarkets may include those of banks, cafés, childcare centers/creches, photo processing, video rentals, pharmacies, and/or filling stations. (Supermarket dengan layanan lengkap yang lebih besar dikombinasikan dengan sebuah toko serba ada ini kadang-kadang dikenal sebagai hypermarket. Layanan lain yang ditawarkan di beberapa supermarket mungkin termasuk bank2, kafe, pusat penitipan anak / bayi, pengolahan foto, video rental, apotik, dan / atau stasiun pengisian)

Qiroati 8 Jan 2011

January 29, 2011

Hasil belajar Qiroati 8 Jan 2011

Bismillahirrahmanirrohim

Huruf Isti’la : Ketika diucapkan lidah, posisi diangkat ke atas

(kho, shod, dod, tho, dho, ghin, kof)

-Waktu mengucapkan Allah : tidak boleh ada kedengaran suara wawu

Lidah pojok kiri atau kanan sebelah depan ditempelkan ke atas gusi.

Lohnya seperti A’a Gym itu ^^. Loh

-Mad tobi’i ,panjang 1 alif  satu ayunan saja.

- Pengucapan huruf Tho, bentuknya bengkok ke bawah, ujung lidah

ditempelkan ke langit-langit depan.

- Untuk belajar , gunakan 3 jenis lagu dulu.Lagu pertama, nada awal tinggi.

Lagu kedua datar nadanya.

(Saya pernah dengar ini lagu yang diajarkan seperti qoriah International

Maria Ulfah ^^)

- Kof  mati monyong    (coba tanyain lagi..belum jelas ^^)

- Ya Gin mati , maju bibirnya (coba tanyain lagi..belum jelas ^^)

- Dhod, samping lidah digesekkan dari belakang ke depan ke gigi geraham

(dari belakang ke depan). Boleh salah satu sisi lidah kanan atau kiri.

-Albaqoroh ayat 14. …Waidha kholau … BERAKHIRAN U. Tidak dibaca O.

- Albaqoroh ayat 15. Alloh  huruf pertama dibaca A, bukan O.

- Albaqoroh ayat 28 : Kaifa.. DIBACA I bukan E.

- Jika wakof pas di jaiz munfasil, maka jaiz munfasilnya tidak berlaku, jadi

panjangnya cukup 2 harokat. Contoh di Albaqoroh ayat 30. Jika berhenti

atau wakof di  tsummasta”waa”.

- Surat Alfatihah :  Perhatikan kata mustaqim. Pada QIM ekspresikan

bibirnya. Maju dulu bibirnya, baru ke belakang tarik.

Pada kata  maghduubi   ,MAGH–>maju ke depan

Siapa Sajayang Tidak Kena Denda Administratif Pajak

January 17, 2011

Apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) *) atau batas waktu perpanjangan penyampaian Surat Pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (4), dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai, Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Masa lainnya, dan sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak badan serta sebesar Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi.

Pengenaan sanksi administrasi berupa denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dilakukan terhadap:

a.Wajib Pajak orang pribadi yang telah meninggal dunia;

b.Wajib Pajak orang pribadi yang sudah tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas;

c.Wajib Pajak orang pribadi yang berstatus sebagai warga negara asing yang tidak tinggal lagi di Indonesia;

d.Bentuk Usaha Tetap yang tidak melakukan kegiatan lagi di Indonesia;

e.Wajib Pajak badan yang tidak melakukan kegiatan usaha lagi tetapi belum dibubarkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku;

f.Bendahara yang tidak melakukan pembayaran lagi;

g.Wajib Pajak yang terkena bencana, yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan; atau

h.Wajib Pajak lain yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

Penjelasan

Bencana adalah bencana nasional atau bencana yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

http://pelayanan-pajak.blogspot.com/2008/11/sanksi-administrasi-berupa-denda-karena.html

Wajib Pajak Non Efektif

January 15, 2011

http://syafrianto.blogspot.com/2009/09/wajib-pajak-yang-tinggal-di-luar-negeri.html

Saat ini banyak Wajib Pajak yang telah terdaftar, namun tidak pernah memenuhi kewajiban perpajakannya. Salah satu penyebab Wajib Pajak yang telah terdaftar namun tidak memenuhi kewajiban perpajakannya ini adalah karena usaha dari Wajib Pajak yang sudah tidak aktif lagi, perusahaan yang sudah dibubarkan, orang pribadi yang telah meninggal dunia, bendahara pemerintah yang tidak lagi melakukan kegiatan pembayaran, Wajib Pajak orang pribadi yang berada atau bertempat tinggal atau bekerja di luar negeri lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan ataupun sebab lainnya.
Seharusnya Wajib Pajak yang tidak melaksanakan kewajiban perpajakan akan dikenakan sanksi administrasi perpajakan. Namun karena kelak penerbitan sanksi administrasi perpajakan ini akan menjadi tunggakan pajak yang tidak dapat ditagihkan sebagai akibat dari Wajib Pajak atau penanggung pajaknya yang sudah tidak jelas keberadaannya, maka guna menertibkan administrasi terhadap Wajib Pajak ini, maka Direktur Jenderal Pajak mengeluarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-89/PJ/2009 tanggal 14 September 2009 tentang Tata Cara Penanganan Wajib Pajak Non Efektif.

Dalam SE-89/PJ/2009 ini ditegaskan bahwa jika Wajib Pajak yang memenuhi salah satu dari kriteria berikut:

  1. Selama 3 (tiga) tahun berturut-turut tidak pernah melakukan pemenuhan kewajiban perpajakan baik berupa pembayaran pajak maupun penyampaian SPT Masa dan/atau SPT Tahunan.
  2. Tidak diketahui/ditemukan lagi alamatnya.
  3. WP orang pribadi yang telah meninggal dunia tetapi belum diterima pemberitahuan tertulis secara resmi dari ahli warisnya atau belum mengajukan penghapusan NPWP.
  4. Secara nyata tidak menunjukkan adanya kegiatan usaha.
  5. Bendahara tidak melakukan pembayaran lagi.
  6. WP badan yang telah bubar tetapi belum ada Akta pembubarannya atau belum ada penyelesaian likuidasi (bagi badan yang sudah mendapat pengesahan dari instansi berwenang).
  7. WP orang pribadi yang bertempat tinggal atau berada atau bekerja di luar negeri lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan.

maka dapat ditetapkan sebagai Wajib Pajak Non Efektif (NE).
 

Hukum Pajak dalam Islam

January 14, 2011
http://saga-islamicnet.blogspot.com/2010/06/hukum-pajak-dalam-islam.html
Akhir –akhir ini, banyak kalangan membicarakan masalah pajak. Hal ini terkait dengan kasus korupsi yang terjadi di lingkungan Direktorat Pajak. Bagaimana sebenarnya hukum pajak dalam kaca mata syariah ?
Pajak menurut istilah kontemporer adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang sehingga dapat dipaksakan- dengan tiada mendapat balas jasa secara langsung. Pajak dipungut penguasa berdasarkan norma-norma hukum untuk menutup biaya produksi barang-barang dan jasa kolektif untuk mencapai kesejahteraan umum.
Dalam ajaran Islam pajak sering diistilahkan dengan adh-Dharibah yang jama’nya adalah adh-Dharaib. Ulama – ulama dahulu menyebutnya juga dengan al Maks. Di sana ada istilah-istilah lain yang mirip dengan pajak atauadh-dharibah diantaranya adalah :
a. al-Jizyah ( upeti yang harus dibayarkan ahli kitab kepada pemerintahan Islam )
b. al-Kharaj( pajak bumi yang dimiliki oleh Negara )
c. al-Usyr (bea cukai bagi para pedagang non muslim yang masuk ke Negara Islam)

Pendapat Ulama Tentang Pajak
Kalau kita perhatikan istilah-istilah di atas, kita dapatkan bahwa pajak sebenarnya diwajibkan bagi orang-orang non muslim kepada pemerintahan Islam sebagai bayaran jaminan keamanan. Maka ketika pajak tersebut diwajibkan kepada kaum muslimin, para ulama berbeda pendapat di dalam menyikapinya.

Pendapat Pertama : menyatakan pajak tidak boleh sama sekali dibebankan kepada kaum muslimin, karena kaum muslimin sudah dibebani kewajiban zakat. Dan ini sesuai dengan hadist yang diriwayatkan dari Fatimah binti Qais, bahwa dia mendengar Rasulullah SAW bersabda :

لَيْسَ فِي الْمَالِ حَقٌّ سِوَى الزَّكَاةِ
“Tidak ada kewajiban dalam harta kecuali zakat. ” ( HR Ibnu Majah, no 1779, meskipun di dalamnya ada rawi : Abu Hamzah ( Maimun ), menurut Ahmad bin Hanbal dia adalah dha’if hadist, dan menurut Imam Bukhari : dia tidak cerdas )
Apalagi banyak dalil yang mengecam para pengambil pajak yang zhalim dan semena-mena, diantaranya adalah :
Pertama : Hadist Abdullah bin Buraidah dalam kisah seorang wanita Ghamidiyah yang berzina bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :
“ Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya perempuan itu telah benar-benar bertaubat, sekiranya taubat (seperti) itu dilakukan oleh seorang penarik pajak, niscaya dosanya akan diampuni.” ( HR Muslim, no: 3208 )
Kedua : Hadist Uqbah bin ‘Amir, berkata saya mendengar Rasulullah saw bersabda :
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ صَاحِبُ مَكْسٍ

 

“ Tidak akan masuk surga orang yang mengambil pajak (secara zhalim).” ( HR Abu Daud, no : 2548, hadist ini dishahihkan oleh Imam al Hakim ) .
Dari beberapa dalil di atas, banyak para ulama yang menyamakan pajak yang dibebankan kepada kaum muslim secara zhalim dan semena-mena, sebagai perbuatan dosa besar, seperti yang dinyatakan Imam Ibnu Hazm di dalam Maratib al Ijma’, Imam Dzahabi di dalam bukunya Al-Kabair, Imam Ibnu Hajar al Haitami di dalam az- Zawajir ‘an Iqtirafi al Kabair, Syaikh Sidiq Hasan Khan di dalam ar-Raudah an-Nadiyah, Syaikh Syamsul al Haq Abadi di dalam Aun al-Ma’bud dan lain-lainnya

Pendapat Kedua : menyatakan kebolehan mengambil pajak dari kaum muslimin, jika memang negara sangat membutuhkan dana, dan untuk menerapkan kebijaksanaan inipun harus terpenuhi dahulu beberapa syarat. Diantara ulama yang membolehkan pemerintahan Islam mengambil pajak dari kaum muslimin adalah Imam al Juwaini di Ghiyats al Umam hlm : 267, Imam Ghazali di dalam al-Mustasyfa : 1/303, Imam Syatibi di dalam al I’tishom : 2/ 619.

Syarat-syarat Pemungutan Pajak
Para ulama yang membolehkan Pemerintahan Islam memungut pajak dari umat Islam, meletakkan beberapa syarat yang dipenuhi terlebih dahulu, diantaranya adalah sebagai berikut :

Pertama : Negara sangat membutuhkan dana untuk keperluan dan maslahat umum, seperti pembelian alat-alat perang untuk menjaga perbatasan Negara yang sedang dirongrong oleh musuh.
Kedua : Tidak ada sumber lain yang bisa diandalkan oleh Negara, baik dari zakat, jizyah, al usyur, kecuali dari pajak.
Ketiga : Harus ada persetujuan dari alim ulama, para cendikiawan dan tokoh masyarakat.
Keempat : Pemungutannya harus adil, yaitu dipungut dari – orang kaya saja -, dan tidak boleh dipungut dari orang-orang miskin. Distribusinya juga harus adil dan merata, tidak boleh terfokus pada tempat-tempat tertentu atau untuk kepenting an kampaye saja, apalagi tercemar unsur KKN atau korupsi.
Kelima : Pajak ini sifatnya sementara dan tidak diterapkan secara terus menerus, tetapi pada saat-saat tertentu saja, ketika Negara dalam keadaan genting atau ada kebutuhan yang sangat mendesak saja.
Keenam : Harus dihilangkan dulu pendanaan yang berlebih-lebihan dan hanya menghambur-hamburkan uang saja.
Ketujuh
: Besarnya pajak harus sesuai dengan kebutuhan yang mendesak pada waktu itu saja.
Sebagian besar syarat-syarat tersebut teringkas dalam peristiwa Sultan Dhahir Baibes yang pada waktu itu berkuasa di Mesir berniat memungut pajak dari rakyat Mesir ( tentunya yang kaya-kaya ) untuk membantu pengadaan peralatan militer untuk melawan serangan pasukan Tatar. Sultan Dhahir Beibes mengumpulkan para ulama dan hasilnya semua setuju, kecuali Imam Nawawi yang memberikan syarat, Sultan harus mengeluarkan kekayaan yang dimilikinya dan yang dimiliki para pejabat lain terlebih dahulu, sebelum memungut pajak dari rakyat.

Apakah pajak hari ini sesuai dengan Islam ?
Apakah pajak hari ini sesuai dengan syarat-syarat yang telah disebutkan ulama atas ? maka jawabannya adalah tidak, hal itu dengan beberapa sebab :

1. Pajak hari ini dikenakan juga pada barang dagangan dan barang-barang yang menjadi kebutuhan sehari-hari yang secara tidak langsung akan membebani rakyat kecil
2. Hasil pajak hari ini dipergunakan untuk hal-hal yang bukan termasuk kebutuhan darurat, tetapi justru malah digunakan untuk membiayai tempat-tempat maksiat dan rekreasi, pengembangan budaya yang tidak sesuai dengan ajaran Islam dan sejenisnya, bahkan yang lebih ironisnya lagi sebagian besar pajak yang diambil dari rakyat itu hanya untuk dihambur-hamburkan saja, seperti untuk pembiayaan pemilu, renovasi rumah DPR, pembelian mobil mewah untuk anggota dewan dan pejabat, dan lain-lainnya.
3. Pajak hari ini diwajibkan terus menerus secara mutlak dan tidak terbatas.
4. Pajak hari ini diwajibkan kepada rakyat, padahal zakat sendiri belum diterapkan secara serius.
5. Pajak yang diwajibkan hari ini belum dimusyawarahkan dengan para ulama dan tokoh masyarakat.
6. Pajak hari ini diwajibkan kepada rakyat kecil, padahal sumber-sumber pendapat Negara yang lain, seperti kekayaan alam tidak diolah dengan baik, malah diberikan kepada perusahan asing, yang sebenarnya kalau dikelola dengan baik, akan bisa mencukupi kebutuhan Negara dan rakyat.
Dari keterangan di atas, menjadi jelas, bahwa pajak yang diterapkan hari ini di banyak negara-negara yang mayoritas penduduknya Islam, termasuk di dalamnya Indonesia adalah perbuatan zhalim yang merugikan rakyat kecil, apalagi hasilnya sebagian besar dihambur-hamburkan untuk sesuatu yang kurang bermanfaat, bahkan terbukti sebagiannya telah dikorupsi, hanya sebagian kecil yang digunakan untuk kepentingan umum dan kesejahteraan masyarakat. Wallahu A’lam.
 
Posted : Dr. Ahmad Zain
Sumber : http://www.arrisalah.net

Silahkan selengkapnya berkunjung ke http://saga-islamicnet.blogspot.com/2010/06/hukum-pajak-dalam-islam.html#ixzz1AxuI8S9t

Ibadah Dalam Islam

August 14, 2010

http://think-essential.blogspot.com/2008/03/makna-ibadah-dalam-islam.html

Pemahaman seseorang tentang ibadah kadang terbatas pada aktivitas yg bersifat ritual saja seperti shalat, puasa, zakat dsb… Apa makna & syarat diterimanya ibadah? Dan bagaimana suatu pekerjaan atau perbuatan (hal yang halal atau mubah di luar peribadatan) itu bisa bernilai ibadah di sisi Allah swt?

Tujuan Penciptaan Manusia
Seseorang yg ditugaskan di suatu pos, tentu ia harus mengetahui apa sebenarnya tujuan ia ditempatkan di pos tersebut. Demikian pula dengan manusia, sudah sewajibnya kita tahu apa tujuan Allah swt menciptakan kita…

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (menyembah) kepada-Ku”. (QS. 51:56).

Kini jelaslah, bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin hanyalah untuk mengabdi & menyembah Allah, beribadah kepada Allah semata.

Makna Ibadah
Secara bahasa ibadah berarti tunduk dan taat. Sedangkan menurut istilah, ibadah berarti segala perkataan dan perbuatan yang dicintai serta diridhai Allah swt, baik yg bersifat lahir (nampak) maupun bathin (tersembunyi).

Namun ada sebagian orang yg kurang benar dalam memahami arti dari ibadah. Mereka menganggap ibadah hanyalah terbatas pada ibadah ritual yg tercantum dalam rukun Islam, yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Padahal sebenarnya ibadah sendiri tidak mempunyai arti sesempit itu. Sebaliknya rukun Islam inilah yg seharusnya menjadi titik tolak bagi seorang muslim dalam merealisasikan ibadah dalam seluruh aspek kehidupannya.

Muhammad Quthb dalam sebuah bukunya menuliskan: “Perasaan seorang muslim dalam perjalanan mencari rizki, mencari ilmu, mengupayakan kemakmuran bumi dan setiap aktivitas fisik, akal dan jiwanya adalah (bisa bernilai) ibadah. (Nilai) Ibadah yg dilaksanakan dengan keikhlasan yg sama dengan keikhlasan untuk melaksanakan (ibadah) shalat.” Ternyata menuntut ilmu, mendidik & membesarkan anak, bekerja keras mencari nafkah untuk keluarga, bahkan menyingkirkan duri dari jalanan pun bisa mempunyai nilai ibadah. Tentunya ada syarat-syarat tertentu, hingga sesuatu yg kita kerjakan dinilai Allah sebagai ibadah.

Syarat Diterimanya Ibadah
Tiga syarat yg harus dipenuhi agar ibadah kita diterima Allah swt:

  1. Lillah, yaitu niat yg ikhlash, niat hanya karena Allah swt semata, niat hanya untuk mencari keridhaan Allah swt.
  2. Billah, yaitu pelaksanaannya seperti yg diperintahkan Allah dan yg dicontohkan oleh Rasulullah (ittiba’). Misalnya, kita mecontoh bagaimana Rasulullah shalat, puasa, bersillaturrahiim, bertetangga, bertutur kata, memimpin umat dan sebagainya.
  3. Illallaah, yaitu dengan tujuan hanya untuk mencari keridhaan Allah semata. Firman Allah: Dan di antara manusia ada orang yg mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (QS. 2:207)

Jika salah satu saja syarat di atas tidak terpenuhi dalam melaksanakan peribadatan kepada Allah swt, maka ibadah tersebut tertolak dan tidak bernilai ibadah di sisi Allah swt.

Bekerja Bisa Bernilai Ibadah di Sisi Allah SWT
Melaksanakan suatu aktivitas kebaikan (hal yang halal atau mubah) di luar peribadatan misalnya bekerja mencari nafkah, maka syarat minimal yg harus terpenuhi agar pekerjaan tersebut dapat bernilai ibadah di sisi Allah swt adalah memenuhi persyaratan ‘lillah’ yaitu niat yang ikhlash, niat untuk menafkahi keluarga, niat mencari rezeki yang baik & halal, …niat untuk mencari keridhaan Allah swt.

Rasulullah saw bersabda: “Bahwasanya segala amal perbuatan itu tergantung pada niat…” (HR. Bukhari-Muslim).

Contoh, seseorang yg pergi bekerja dengan niat hanya untuk mencari dunia semata atau untuk menumpuk harta semata tanpa dibarengi niat yg lebih dari itu, yaitu niat ikhlash atau niat untuk menafkahi anak dan istri dengan rizki yg baik & halal, maka gugurlah nilai ibadah dari usaha kerja tersebut walaupun dia berhasil memperoleh apa yg dia inginkan atau niatkan yaitu uang atau harta.

Maka… Jangan sia-siakan segala bentuk aktifitas kebaikan kita sehari-hari walau hanya menyingkirkan duri dari jalanan, ber-niatlah-lah dengan ikhlash, maka insya allah semua aktivitas kita bisa bernilai ibadah & pahala di sisi Allah swt. Dan jangan lupa ucapkanlah basmallah atau do’a-do’a yang dicontohkan Rasulullah saw.

Taqwa adalah tujuan Ibadah.
“Hai manusia, sembahlah Rabb-mu Yg telah menciptakanmu dan orang-orang yg sebelummu, agar kamu bertaqwa”. (QS. 2:21)

Ayat tersebut menerangkan bahwa tujuan dari ibadah adalah untuk membentuk insan yg bertakwa. Jika ibadah itu tidak menghasilkan takwa, maka perlu ditinjau kembali kebenaran niat & pelaksanaan ibadah tersebut. Apakah sudah benar ia berniat dengan ikhlash mencari ridho Allah, apakah cara pelaksanaannya sudah sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasulullah, dsb. Hasil dari takwa seorang muslim yg telah mampu mencapai derajat takwa akan diberi Allah beberapa hal, diantaranya:

  1. Furqan, yaitu pembeda antara yg haq dan yg bathil. “Hai orang- orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan …” (QS. 8:29). Banyak orang yg kini melihat sesuatu yg bathil itu seperti yg haq dan sebaliknya sesuatu yg haq itu seperti yg bathil hingga terjadi percampuran antara haq & kebathilan. Disinilah urgensi furqaan, yg dengannya kita dapat membedakan dan melihat dengan jelas bahwa sesuatu yg haq itu haq dan yg bathil itu bathil.
  2. Jalan keluar, rizki dan kemudahan. “…Barangsiapa yg bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yg tidak disangka-sangkanya … Dan barangsiapa yg bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”. (QS. 65:2,3,4). Misalnya sebuah keluarga berada dalam kesulitan ekonomi. Tiba-tiba secara tidak disangka-sangka keluarga tersebut mendapat hadiah yg dapat mereka gunakan untuk meringankan beban ekonomi tersebut. Inilah rizki yg Allah janjikan bagi orang yg bertakwa.
  3. Berkah atau kebaikan yg banyak. “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, …” (QS. 7:96). Sepiring makanan yg mempunyai berkah akan dapat mengenygkan sekeluarga. Sebalik-nya, makanan yg tidak mengandung berkah tidak akan dapat mengenygkan, walaupun hanya satu orang.
  4. Ampunan & Surga. Dan bersegera-lah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yg luasnya seluas langit dan bumi yg disediakan untuk orang-orang yg bertaqwa, (QS. 3:133) Selain itu masih banyak lagi hasil dari takwa yg disebutkan dalam Al-Quran. Siapakah yg ingin mendapat anugerah tersebut? Berusahalah menjadi manusia yg bertakwa dengan jalan taat beribadah kepada-Nya.

Dari berbagai sumber,
Wallahu ‘alam

PENGERTIAN WAJIB PAJAK NON EFEKTIF

July 26, 2010

http://www.pajakonline.com/engine/learning/view.php?id=218

  1. Wajib pajak yang tidak pernah melakukan pemenuhan kewajiban perpajakan selama 2 (dua) tahun berturut-turut
  2. Wajib pajak yang meninggal dunia/bubar dimana :
    • Wajib pajak orang pribadi yang meninggal dunia tetapi belum diterima pemberitahuan tertulis secara resmi dari ahli warisnya ( keterangan/akte kematian belum dilampirkan)
    • Wajib pajak badan telah bubar tetapi belum ada akte pembubarannya dari instansi yang berwenang atau belum ada penyelesaian likuidasi (bagi badan yang sudah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman)
  3. Wajib pajak yang tidak diketahui lagi alamatnya, walaupun sudah dilakukan pencarian oleh petugas verifikasi atau petugas yang ditunjuk untuk itu
  4. Wajib pajak yang berdasarkan hasil penelitian/pengamatan tidak melakukan kegiatan usaha lagi

PERLAKUAN PAJAK BAGI WAJIB PAJAK NON EFEKTIF

  1. NPWP Wajib pajak yang berstatus NE dapat dihapuskan dari administrasi perpajakan atau tetap berstatus sebagai WP NE sampai waktu yang tidak ditentukan;
  2. Petugas pajak akan melakukan pemeriksaan pajak untuk menentukan apakah wajib pajak tetap berstatus NE atau dihapus dari administrasi perpajakan;
  3. Penentuan status WP NE didasarkan atas usulan petugas pajak yang melakukan penelitian/pengamatan;
  4. Petugas pemeriksa pajak harus mengisi formulir Berita Acara Pengusulan WP NE;
  5. Berita Acara Pengusulan WP NE harus disetujui oleh Kepala KPP WP yang diusulkan terdaftar;
  6. Apabila Berita Acara tersebut telah disetujui, maka Kepala KPP akan memuat Daftar Pengusulan WP NE dan dikirim ke Kantor Pusat DJP;
  7. Pusat informasi perpajakan Kantor Pusat DJP akan memberikan kode “NE” pada master file WP yang bersangkutan;
  8. WP yang master filenya sudah diberi kode “NE” tidak diberikan Surat Teguran karena tidak menyampaikan SPT, tidak diawasi pembayaran pajaknya, tidak diberikan Surat Tagihan Pajak dan tidak diperhitungkan dalam analisis tingkat kepatuhan dan efektifitas pembayaran WP;
  9. Apabila WP menjadi aktif karena memasukkan SPT baik Masa maupun Tahunan, membayar pajak, diketahui ada kegiatan usaha atau alamatnya, maka tanda “NE” pada master file lokal di KPP harus segera diubah tanpa pemberitahuan ke Kantor Pusat Dirjen Pajak;
  10. Tanggung jawab penentuan status WP NE sepenuhnya ada pada KPP, termasuk jika di dalam daftar WP NE terdapat wajib pajak yang potensial dan efektif;
  11. Untuk kepentingan pengamatan dan penelitian guna memastikan status WP, tidak dituntut adanya kontak langsung dengan wajib pajak;
  12. Kepastian keadaan wajib pajak juga bisa diperoleh melalui verifikasi lapangan, verifikasi lapangan SPT kempos, pemeriksaan khusus atau pemeriksaan rutin dalam bentuk pemeriksaan sederhana lapangan;
  13. WP NE yang tidak dikenai sanksi administrasi karena tidak menyampaikan SPT terdiri dari :
    1. Wajib Pajak orang pribadi yang telah meninggal dunia yang belum diterima pemberitahuan tertulis secara resmi dari ahli warisnya sehingga masih terdaftar dalam adminstrasi Direktorat Jenderal Pajak
    2. Wajib Pajak Badan yang tidak lagi melakukan kegiatan usaha tetapi belum dibubarkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku
    3. Wajib Pajak yang tidak diketahui lagi alamatnya

http://www.ortax.org/files/lampiran/09PJ_SE89.html

Ber-NPWP Bukan Berarti Wajib Lapor SPT

July 23, 2010

http://rusdiyanis.wordpress.com/2009/06/04/382/

June 4, 2009

Rusdi Yanis Tulisan Pajak bebas sanksi, denda, npwp, sanksi administrasi, SPT masa, SPT tahunan, wajib lapor

NPWP sudah mencapai 13 juta. Program sukses sunset policy dan UU KUP baru memberi andil suksesnya ekstensifikasi Wajib Pajak. Masyarakat di awal tahun 2009 berbondong-bondong antri mendaftarkan diri walaupun dengan setengah hati.

Keengganan masyarakat memiliki NPWP salah satunya disebabkan munculnya berbagai kewajiban administrasi yg harus dilaksanakan. Seolah2 NPWP ini adalah beban yg akan selalu menggantung sampai akhir hayat. Sebenarnya bukan suatu masalah bila WP (si pemegang NPWP) memang produktif. Namun bagaimana bila sudah tdk produktif ?. NPWP dianggap hanya menjadi beban adminsitrasi yg tdk berkesudahan.

UU No. 28/2007 telah memberikan WP  ’tdk produktif’  kepastian hukum berbagai kemudahan pelaksanaan kewajiban formal. Dulu dikenal istilah WP NE (Non Efektif), klasifikasi WP dgn kriteria tertentu yg tidak dipantau lagi kewajiban adm formalnya. Aturan WP NE ini hanya berupa surat edaran Dirjen Pajak dan lebih bersifat internal utk efektivitas dan efisiensi pengawasan WP, bukan berupa kepastian hak WP utk efektivitas dan efisiensi pelaksanaan kewajiban pajak.

Pasal 7 UU KUP baru menambahkan ayat (2), mengatur bahwa WP dgn kondisi tertentu tidak dikenakan sanksi bila tdk lapor SPT. ‘Tidak dikenakan sanksi’ saya artikan ‘boleh dilakukan’. WP boleh tidak  melapor SPT tahunan dan masa, apabila :

a. WP Orang Pribadi telah meninggal dunia.

Ini sesuai dengan pasal 2A UU PPh, kewajiban pajak subyektif WP OP berakhir ketika meninggal dunia. Tidak lagi menjadi subyek pajak maka tidak lagi ada kewajiban pajak. Namun bila ada harta warisan belum terbagi, maka otomatis timbul subyek pajak pengganti (pasal 2 (1) huruf a UU PPh).  NPWP warisan belum terbagi tetap sama dan tetap wajib melapor SPT Thn dgn PTKP Rp.0.- subyek pajak pengganti ini tetap timbul sampai warisan tsb dibagi habis kpd ahli waris. Pengertian warisan belum terbagi adalah warisan produktif yang menghasilkan penghasilan dan belum menjadi obyek pajak ahli waris karena belum dibagi. Bila harta warisan tsb tidak menghasilkan obyek pajak, misalkan rumah utk ditinggali, maka tdk muncul subyek pajak pengganti.

b.  WP OP yang sudah tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas.

Beda dengan point a yang bersifat subyektif, point b ini bersifat obyektif. WP OP pengusaha atau pekerja bebas diperbolehkan tdk melapor SPT masa dan tahunan bila tidak lagi ada kegiatan (omset nihil). Bagaimana bila sebelumnya WP OP adalah karyawan dan tidak lagi bekerja (dan tdk ada usaha/pekerjaan bebas) ?. Hal ini tdk diatur dalam pasal ini, tetapi dapat menggunakan PMK No.183/PMK.03/2007 yaitu WP dgn penghsl neto di bawah PTKP tdk wajib lapor SPT tahunan dan PPh Pasal 25.

c. WP OP WNA yang tidak lagi tinggal di Indonesia.

Sama dgn point a, point c bersifat subyektif. Sejalan dgn pasal 2A UU PPh, WNA yang menjadi WP Dalam Negeri berakhir menjadi subyek pajak DN bila meninggalkan Indonesia utk selama2nya. Tidak lagi menjadi subyek pajak DN  maka tidak lagi ada kewajiban pelaporan SPT.

d. BUT tidak lagi melakukan kegiatan di Indonesia.

Definisi BUT dlm UU PPh dan OECD mensyaratkan adanya keberadaan fisik (tangible asset) dan kegiatan.  Bila fisik ada tetapi tdk ada kegiatan yg dilakukan maka sebenarnya tdk ada BUT lagi.

e. WP badan tidak melakukan kegiatan usaha lagi tetapi belum dibubarkan sesuai ketentuan.

Ini menampung aturan lama ttg status non efektif thd WP badan yg sudah tdk aktif dan menunggu proses likuidasi. Pendapat saya, redaksional ‘lagi’ dlm huruf  f di atas bermakna ini hanya berlaku utk WP badan ‘lama’ yg tidak ada lagi kegiatan usaha. Tidak berlaku utk WP ‘baru’ yg utk sementara belum ada kegiatan usaha.

f. Bendaharawan yg tdk lagi melakukan pembayaran.

Proyek sudah selesai dan tdk ada lagi pembayaran yg dilakukan, namun  status dan SK sbg bendaharawan pemerintah belum di cabut.

g. WP terkena bencana dan WP lain. Akan diatur lebih lanjut dgn PMK .

Permasalahannya adalah bagaimana pihak DJP tahu bahwa WP tsb berada dalam kondisi tersebut di atas. Bila sebelumnya WP masih ‘normal’ dan tiba2 berubah kondisinya, tentu sistem di KPP akan berjalan utk menerapkan law enforcement. Info dari WP setelahnya akan menyebabkan pembetulan STP as pasal 16 KUP. Oleh karena itu, diperlukan komunikasi lisan dan tulisan dari WP sejak awal agar STP tdk terbit. Seharusnya setelah WP meninggal dunia misalkan, segera kirim pemberitahuan ke KPP dgn lampiran surat keterangan kematian dan pernyataan tdk ada warisan produktif belum terbagi atau akta pembagian warisan. Bila WNA kembali ke negara asalnya, lampirkan Exit Permit Only (EPO) dari keimigrasian. Demikian juga bila perusahaan, bendahara atau BUT tidak ada kegiatan lagi, segera beritahukan ke KPP.

Kemudahan atau dispensasi jg diberikana kpd pemegang NPWP baru (terdaftar pada tahun pajak 2008)  oleh pak Darmin dengan membebaskan pengenaan sanksi denda terlambat lapor SPT Tahunan PPh OP tahun pajak 2008 sampai dengan 31/12/2009.

Kemudahan lainnya bagi WP OP pekerja hanya mengisi form SPT Tahunan PPh sederhana dgn jumlah formulir hanya 3 lbr. Bahkan utk penghasilan netto s/d 60 juta setahun hanya mengisi identitas dan jumlah harta/kewajiban pd 1 lembar formulir.

Kemudahan lainnya utk pelaporan SPT tahunan, dpt melapor di KPP mana saja atau drop box di pusat2 keramaian.

Kemudahan lainnya …. mudah2an segera menyusul.

Sumber : http://rusdiyanis.wordpress.com/2009/06/04/382/

Dimulai Dari Yang Kecil

July 20, 2010

Hampir sebulan sekali, saya pulang kampung dalam rangka silaturrohim ke orangtua dan saudara-saudara.

Dalam ramah-tamah dengan kakak, dia menceritakan tentang kemajuan kabupaten ini.

Motto : REMAJA (Religius, Maju, Mandiri dan Sejahtera) Indramayu.

Gebrakan yang dilakukan Bupati Indramayu :

1. Jauh sebelum batik sebagai pakaian seragam nasional di hari Jumat . PNS Indramayu sudah melakukan hal ini.

     (Batik yang terkenal, batik Cirebon atau batik Trusmi, karena berbatasan dengan Cirebon)

2. Bagi yang hendak melanjutkan ke tingkat SLTP. Setiap calon anak didik muslim, harus melampirkan sertifikat mampu membaca iqro dari Madrasah,yang  biasanya  dilaksanakan sore hari selepas pulang sekolah. (Walaupun hal ini kurang efektif, karena masih banyak orang tua yang membeli sertifikat)

3.  Hari Jumat,Bagi anak didik dan PNS muslimah, diwajibkan memakai jilbab.

      Gebrakan pemakaian jilbab bagi PNS & siswi muslimah ini, patut kita apresiasi. Sehingga muslimah akan terbiasa memakai jilbab. Ala bisa karena terbiasa.   Bahkan orangtuanya pun, ikut-ikutan memakai jilbab. Yang jelas tidak akan phobia terhadap islam. (Good Job, patut diacungkan jempol).

4. Setiap imam masjid dan marbot seluruh desa/kelurahan , mendapat subsidi perbulannya. Bukan hanya RT dan RW saja.

5. Sebelum pelajaran dimulai, bagi yang muslim di kelas, dilakukan pembacaam quran dan kultum oleh siswa – siswa. Termasuk PNS nya.

6. Bagi lulusan SLTA yang tidak mampu, namun berprestasi , lulus seleksi Perguruan Tinggi Negeri seperti ITB dan Kedokteran Unpad, dibiayai Pemda  walau setelah lulus harus ikatan dinas untuk mengabdi di daerah Indramayu (PNS).  Tidak percuma adanya pertamina balongan di Indramayu ini, kalau putra daerah tidak diperhatikan.

7. Bagi kepala sekolah berpendidikan terakhir S1, diberi kesempatan untuk melanjutkan S2.  Begitu juga guru-guru yang belum S1, diberi kesempatan untuk melanjutkan S1 (Walau hanya di Universitas Wiralodra Indramayu).

8. Dan masih banyak lagi.

Walaupun belum menerapkan syariat Islam secara kaffah, yang pasti sudah melakukan gebrakan yang berarti bagi kemajuan umat islam, seperti pemakaian jilbab, subsidi imam masjid dan marbot, siswa-siswa wajib bisa baca Alquran. Tak heran kalau Bupati dari daerah lain  sering melakukan studi banding ke daerah ini, yang dijuluki kota mangga.

Ach, saya jadi teringat hadist rosul tentang amar ma’ruf nahi munkar. Abu Sa’id Al-Khudri r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah shollallôhu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Barang siapa diantaramu melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tak sanggup, maka dengan lidahnya. Dan jika tak sanggup juga, maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” ~ H.R. Muslim.

(Yang jelas, ketika saya pulang kampung ini, belum musim mangga  ^-^)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.